Dalam kehamilan terdapat
perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih, yang
sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan hasil
laboraturium. Apabila hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada
kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin.
Perubahan anatomic terdapat peningkatan pembuluh darah, dan ruangan intertisiil
pada ginjal. Dan juga ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya itu akan kembali
normal setelah melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pelebaran dalam
kurun waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi
sebelah kanan. Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uterus
yang membesar dan mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pada
vena ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang di sebelah
kiri tidak terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga
karena pengaruh progesterone, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis
fisiologis dalam kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk, dan
kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah
melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi
intravena (IVP=intravenosus pylography).
Selain itu juga terjadi hyperplasia dan
hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot
saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Dilatasi ureter ini memunginkan
timbulnya refluks air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter. Akibat
pembesaran uterus, hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal, terjadi
perubahan pada kandung kemih yang dimulai pada kehamilan usia 4 bulan. Kandung
kemih akan berpindah ke lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di
daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung kemih mengalami
hipertrofi akibat pengaruh hormone esterogen. Kapasitas kandung kemih meningkat
sampai 1 Liter, kemungkinan karena efek relaksasi dari hormone progesterone.
Perubahan
fungsi
Segera sesudah konsepsi, terjadi
peningkatan aliran plasma (RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (GFR). Sejak
kehamilan trimester 2 GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal
wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum
dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/100
ml dan urea nitrogen darah 8-12 minggu/100ml.
Infeksi
saluran kemih
Infeksi saluran kemih adalah bila pada
pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml.
urin yang diperiksa harus bersih, segar, dan dari aliran tengah (midstream)
atau duambil dengan pungsi suprasimpisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya
lebih dari 103 per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria
ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin
pula disertai dengan gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun
infeksi ini dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darahatau
saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman
naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang
lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escheria
coli (E.coli), di samping kemungkinan kumn-kuman lain seperti Enterbacter
aerogenes, Klebsiella, Psedomonas dan lain-lain.
1.
BAKTERIURIA TANPA GEJALA (ASIMPTOMATIK)
Frekuensi bacterium tanpa gejala
kira-kira 2-10 %, dan dipengaruhi oleh parietas, sosioekonomi wanita hamil
tersebut. Di Amrika Serikat paling tiggi ditemukan pada wanita Negro. Di RS
Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, frekuensi bakteriuria tanpa gejaala dalam
kehamilan sangat tinggi, yaitu 25%.
Beberapa peneliti mendapatkan adanya
hubungan kejaian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam
kehamilan persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklamsia.
Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan
seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yan dibuktikan dengan pemeriksaan
beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamide
ampisilin, atau nitrofurantoin.
2. BAKTERIURIA DENGAN GEJALA (SIMPTOMATIK
A. sistisis
Sistitis adalah peradangan kandung
kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup
dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E.coli, di
samping dapat pula oleh kuman-kuman lain. Factor predisposisi lain adalah
uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, di
samping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air
kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau persalinan. Penggunaan kateter ini
akan mendorong kuman-kuman yang ada di uretra distal untuk masuk ke dalam
kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter bila tidak perlu
betul.
Gejala-gejala sistitis khas sekali,
yaitu disuria terutama pada akhir berkemih, meningkatnya frekuensi bekemih dan
kadang-kadang disertai nyeri di bagian atas simpisis, perasaan ingin berkemih
yang tidak dapat ditahan,air kemih kadang-kadang terasa panas, suhu badan
mungkin normal atau meningkat, dan nyeri di daerah suprasimpisis. Pada
pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak leukosit dan eritrosit dan
kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan
proteinuria biasanya tidk ada.
Sistititis dapat diobati dengan
sulfonamide, ampicilin, eritromisin. Perlu diperhatikan obat-obat lain yang
baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, akan tetapi mempunyai
pengaruh tidak bagi janin, ataupun bagi ibu.
B. Akuta
Merupakan salah satu komplikasi yang
sering dijumpai dalam kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada
kehamilan terakhir, dan permulaan masa nifas. Penyakit ini biasanya disebabkan
oleh Escheria coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti Stafilokokus
aereus, Basillus proteus, dan pseudomonas aeruginosa. Kuman dapat menyebar
secara hematogen atau limfogen, akan tetapi terbanyak berasal dari kandung
kemih. Predisposisinya antara lain yaitu penggunaan kateter untuk mengeluarkan
air kemih waktu persalinan atau kehamilan, air kemih yang tertahan sebab
perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan, atau luka pada jalan
lahir. Diajurkan tidak menggunakan kateter untuk mengeluarkan air kemih, bila
tidak diperlukan betul. Penderita yang menderita pielonefritis kronik atau
glomeroluneftitis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong
terjadinya pielonefritis akuta ini.
Gejala-gejala penyakit biasanya timbul
mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih,
tiba-tiba menggigil, badan panas, dan rasa nyeri di punggung (angulus
kostovertebralis) terutama sebelah kanan. Nafsu makan berkurang, mual,
muntah-muntah, dan kadang diare, dan dapat pula jumlah urin sangat berkurang
(oligouria). Pada pemeriksaan air kemih ditemukan banyak sel leukosit dan
sering bergumpal-gumpal, silinder sel darah, dan kadang-kadang ditemukan
bakteri E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil positif. Perlu
diperhatikan diagnosis banding lain seperti appendicitis akuta, solusio
plasenta, tumor putaran tungkai, dan infeksi nifas.
Pengobatan pielonefritis akuta,
penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan
antibioitika seperti ampicilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan kuman ada,
kemudian tes antibiotic disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut.
Biasanya pengobatan berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat
timbul lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian
penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu
diingat ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun
mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrsiklin.
Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila
pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu
umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada
hasil konsepsi seringkali menimbulkan keguguran atau persalinan premature.
C. Pielonefritis Kronika
Pielonefritis kronik biasanya tidak
atau sedikit sekali menunjukkkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan
merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan.
Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang
lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glomerolus (GFR) dan pada
urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 gr per
hari, gumpalan sel-sel darah putih.
Prognosis bagi ibu dan janin tergantung
dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi dan
insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak
hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderit pielonefritis
kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah
pielonefritis akuta, terapi sperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan
untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita pielonefritis kronika.
D. Glomerulonefritis Akuta
Glomerulonefritis akuta jarang dijumpai
pada wanita hamil. Peyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan
penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab biasanya
Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. sering ditemukan bahwa penderita pada
saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi jalan
pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh streptokokus,
suatu hal yang menyokong teori infeksi local.
Gambaran klinik ditandai oleh timbulnya
hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita sebelumnya
tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oligouria sampai anuria, nyeri
kepala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit
apabila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang disebabkan
oleh komplikasi hipertensi serebral, atau oleh uremia, atau apabila timbul
edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya diketahui dalam trimester III, maka
perbedann dengan preeklamsia dan eklampsia selalu harus dibuat. Pemeriksaan air
kencing menghasilkan sebagai berikut: sering proteinuria, ditemukan eritrosit
dan silinder hialin, silinder korel, dan silinder eritrosit.
Pengobatan sama di luar kehamilan
dengan perhatian khusus, istirahat baring, diet yang sempurna dan rendah garam,
pengendalian hipertensi serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk
pemberantasan infeksi cukup diberi penicillin, karena streptococcus peka
terhadap penicillin. Apabila ini tidak berhasil, maka harus dipakai antibiotika
yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.
Biasanya penderita sembuh tanpa
sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal yang tetap baik. Kehamilan dapat
berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan apabila diinginkan wanita boleh
hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menjadi menahun dengan segala
akibatnya. Ada umumnya prognosis ibu cukup baik. Kematian ibu sangat jarang,
dan apabila terjadi biasanya itu diakibatkan oleh dekompensasi kordis, komplikasi
serebro-vaskuler anuria, dan uremia.
Kehamilan tidak banyak mempengaruhi
jalan penyakit. Sebaliknya glomerulonefritis akuta mempunyai pengaruh tidak
baik terhadap hasi konsepsi; terutama yang disertai tekanan darah yang sangat
tingggi dan insufisiensi ginjal, dapat menyebabkan abortus, partus prematurus
dan kematian janin.
E. Glomerulonefritis Kronika
Wanita hamil dengan glomerulonefritis
kronika sudah menderita penyakit itu beberapa tahun sebelumnya. Karena itu,
pada pemeriksaan kehamilan pertama dapat dijumpai proteinuria, sedimen
yang tidak normal, dan hipertensi. Diagnosis mudah dibuat bila dijumpai
proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. Apabila
gejala-gejala penyakit penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah lanjut,
atau ditambah dengan pengaruh kehamilan (superimposed preeclampsia), maka lebih
sulit untuk membedakannya dari preeklampsi murni.
Suatu ciri tetap ialah makin
memburuknya fungsi ginjal karena makin lama makin banyak kerusakan yang
diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkan sampai mencapai tingkat
akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini dapat menampakkan diri
dalam 4 macam: (01) hanya terdapat proteinuria menetap dengan atau tanpa
kelainan sedimen; (02) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik; (03)
dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis akuta; (04) gagal ginjal
sebagai penjelmaaan pertama.
Keempat-empatnya dapat menimbulkan
gejala-gejala insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.
Selain proteinuria, kelainan sedimen
dan hipertensi, dapat pula dijumpai edema (terutama di muka), dan anemia.
Pemeriksaan kimiawi darah menunjukkan urea-nitrogen, kadar asidum urikum, dan
kadar kreatinin yang tinggi. Pengeluaran fenosufonftalein dan kreatinin oleh
ginjal lebih lambat.
Pengobatan tidak memberi hasil yang
memuaskan karena penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang
sangat tinggi, dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi
dengan seksama. Dalam hal-hal terakhir pengakhiran kehamilan perlu
dipertimbangkan. Sebaiknya penderita glomerulonefritis kronika tidak menjadi
hamil. Karena kerusakan ginjal berbeda-beda pada waktu penderita
ditemukan hamil, maka sulit untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan
penyakit. Yang tanpa kehamilan juga makin lama makin menjadi lebih buruk.
Agaknya kehamilan tidak mempercepat proses kerusakan ginjal, walaupun
sebaliknya dapat pula terjadi.
Prognosis bagi ibu akhirnya buruk: ada
yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasnya
kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidaknya faktor-faktor
yang mempercepat proses penyakit.
Prognosis bagi janin dalam kasus
tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan
fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan
kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat
insufisiensi placenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tekanan
darah yang sangat tinggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan partus
prematurus, atau janin mati dalam kandungan.
F. Sindroma Nefrotik
Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal
dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas edema,
proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbuminemia, dan
hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi
antigen-antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit
yang dapat menyertai sindroma nefrotik adalah glomerulonefritis kronika (paling
sering), lupus eritemosus, DM, amiloidosis, sifilis, dan thrombosis vena
renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat
(timah, air raksa), obat-obatan antikejang, serta racun serangga. Apabila
kehamilan disertai sindroma nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan
anak tergantung pada faktor penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.
Sedapat mungkin faktor penyebabnya harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsy
ginjal. Penderita harus diobati dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang
menjadi sebab harus dihentikan. Penderita diberi diet tinggi protein. Infeksi
sedapat-dapatnya dicegah dan yang sudah ada harus diberantas dengan
antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul dalam nifas. Siberman dan Adam mengajarkan
pengobatan antibeku (heparin) dalam nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik.
Dapat pula diberi obat-obat kortikosteroid dalam dosis tinggi.
G.
Gagal Ginjal Mendadak Dalam Kehamilan
Gagal ginjal mendadak (acute renal
failure) merupakan komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas,
karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi ginjalyang tidak bisa
sembuh lagi. Kejadiannya 1 dalam 1300-1500 kehamilan.
Kelainan
ini didasari oleh 2 jenis patologi.
- Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan.
- Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal ayng menderita.
Penderita yang mengalami gagal ginjal
mendadak ini sering dijumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu, dan kehamilan
telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering diakibatkan oleh abortus septic
yang diakibatkan oleh bakteri Chlostridia welchii atau streptococcus. Gambaran
klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda oligouria mendadak dan
azothemia serta pembekuan darah intravaskuler (DIC), sehingga terjadi nekrosis
tubular yg akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila kerusakan tubulus
tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan tindakan
tindakan histerektomi untuk menagatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan
tidak perlu melakukan operasi histerektomi tersebut asalkan penderita diberikan
antibiotic yang adekuat dan intensif serta dilakukan dialysis terus menerus
sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan nekrosis kortikal yang bilateral,
biasanya dihubungkan dengan solusio plasenta, preeclampsia berat atau
eklampsia, kematian janin dalam kandungan yang lama, emboli air ketuban yang
mnyebabkan terjadinya DIC, reaksi transfuse darah atau pada perdarahan
banyak yang dapat menimbulkan iskemi.
Penderita dapat meninggal dalam waktu
7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan jaringan dapat terjadi di
beberapa tempat yang tersebar atau ke seluruh jaringan ginjal.
Pada masa nifas sulit diketahui
sebabnya, sehingga disebut sindrom ginjal idiopatik postpartum. Penanggulangan
pada keadaan ini, penderita diberi infuse, atau transfusi darah, diperhatikan
keseimbangan elektrolit dan cairan dan segera dilakukan hemodialisis bila ada
tanda-tanda uremia. Banyak penderita membutuhkan hemodialis secara teratur atau
dilakukan transplantasiginjal untuk ginjal yang tetap gagal. Gagal ginjal dalam
kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:
- Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik:
- Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan baik;
- Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati.
H. Batu Ginjal (Nefrolitiasis) Dan Saluran
Kemih (Urolitiasis)
Batu saluran kemih dalam kehamilan
tidaklah biasa. Frekuensinya sangat sedikit 0.03-0,07%. Walaupun demikian perlu
juga diperhatikan karena urotiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi
saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak,
kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat
penyakit sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu
membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan
pemeriksaan intravenous pielografi; akan tetapi janin harus dilindungi dari
efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG dan MRI.
Bila diketahui adanya urolitiasis dalam
kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya,
diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu
akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan
tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atatu
setelah post partum. Pada batu buli-buli, bila batu tersebut diperkirakan
menghalangi jalannya persalinan, kehamilan diakhiri dengan SC, dan batu
diangkat post partum dengan seksio alta atau lipotripsi.
I. Ginjal Polikistik
Ginjal polikistik merupakan kelainan
bawaan (herediter). Kehamilan umunya tidak mempengaruhi perkembangan
pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi bila fungsi
ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya.
Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena
kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tingggi.
J. Tuberkulosis Ginjal
Jarang dijumpai wanita hamil dengan
tuberculosis ginjal, walaupun dalam literature disebutkan ada. Kehamilan akan
mempengaruhi TBC ginjal tersebut, bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat
hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik.
Diagnosis TBC ginjal ditentukan bila
ditemukan tuberkel kuman MIkrobakterium tuberculosis pada ginjal, tetapi hal
ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan invasive. Tes Tuberkulin tidak
dapat dijadikan patokan karena kehamilan mengurangi sensitivitas tuberculin.
Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan leukosit, eritrosit, dan tuberculosis
dalam urin.
Penanganan
TBC ginjal dalam kehamilan:
- Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul sampai akhir kehamilan.
- Paliatif, dengan melakukan terminasi kehamilan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh proses tuberculosis.
- Radikal, yang terdiri atas nefroktomi atau kombinasi aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan apabila tuberculosis hanya terjadi pada 1 ginjal. Tindakan ini diperlukan pada 69% kasus tuberculosis ginjal dengan eksaserbasi akut pada kehamilan. Aborsi tidak menghentikan proses tuberculosis.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah
abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak
diobati berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ
lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboraturium
khusus
K. Kehamilan Pasca Nefrektomi
Pada penderita yang mempunyai 1
ginjal karena kelainan congenital atau pasca nefrektomi, dapat atau boleh hamil
sampai aterm asalkan fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi ginjal
sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik karena kemungkinan
timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung pervaginam
kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.
L. Kehamilan Pasca Transplantasi Ginjal
Akhir-akhir ini terdapat laporan
tentang kehamilan sampai cukup bulan, setelah wanita mengalami transplantasi
ginjal. Prognosisnya cukup baik, bila ginjal yang diimplantasikan tersebut
berasal dari donor yang hidup. Selama kehamilan mungkin timbul kompikasi pada
ibu dan janinnya.
Kira-kira 50% kehamilan akan berakhir
dengan kelahiran premature, dan mungkin pula timbul komplikasi hipertensi,
proteinuria, atau infeksi saluran kemih. Pada ginjal sendiri mungkin dapat
timbul kerusakan yang sifatnya dapat pulih kembali normal.
Bila ginjal yang ditransplantasikan
tersebut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal (cadaver), maka
kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1
tahun, sehingga pada waniat tersebut harus dilakukan dialysis terus menerus
untuk mempertahankan kehidupannya. Wanita yang menginginkan hamil hamil setelah
dapat tranplantasi giinjal, haruslah diawasi ketat oleh spesialis obstetric dan
spesialis penyakit ginjal.
Sebaiknya tentu wanita ini tidak hamil
lagi. Davidson dkk mengajukan 8 kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang
wanita yang telah mendapatkan transplantasi ginjal, untuk diperbolehkan hamil.
- Kesehatan penderita dalam keadaan baik dalam waktu 1-2 tahun setelah mendapatkan transplantasi ginjal
- Tidak ada kontraindikasi obstetric untuk ibu hamil.
- Tidak ada proteinuria
- Tidak ada tanda-tanda penolakan graft
- Fungsi ginjal harus baik, dengan hasil pemeriksaan laboraturium didapat kadar kreatinin darah antara 0,8 -2 mg/ml
- Tidak ada tanda-tanda bendungan, yang dibuktikan dengan pemeriksaan urogram
- Tidak ada tanda-tanda hipertensi
- Mendapat terapi
- Prednisone 10-15 mg/hari
- Aothioprin 2-3 mg/kg bb/ hari
Perlu diperhatikan kriteria Davidson
tersebut, agar wanita yang mempunyai transplantasi ginjal dapt ditolong, sehingga
kehamilan tidak membuat penderita atau janin mengalami komplikasi yang tidak
diharapkan sama sekali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar